Pertambangan adalah rangkaian kegiatan dalam rangka upaya pencarian, penambangan (penggalian), pengolahan, pemanfaatan dan penjualan bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, migas). Menurut UU No.11 Tahun 1967, bahan tambang tergolong menjadi 3 jenis,
yakni Golongan A (yang disebut sebagai bahan strategis), Golongan B
(bahan vital), dan Golongan C (bahan tidak strategis dan tidak vital). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 menjelaskan secara rinci
bahan-bahan galian apa saja yang termasuk dalam gologan A, B dan C.
Pembangunan dan
pengelolaan pertambangan perlu diserasikan dengan bidang energi da bahan bakar
serta dengan pengolahan wilayah, disertai dengan peningkatan pengawasan yang
menyeluruh. Pengembangan dan
pemanfaatan energi perlu secara bijaksana baik itu untuk keperluan ekspor
maupun penggunaan sendiri di dalam negeri serta kemampuan penyediaan energi
secara strategis dalam jangka panjang. Sebab minyak bumi sumber utama pemakaian
energi yang penggunaannya terus meningkat, sedangkan jumlah persediaannya
terbatas. Karena itu perlu adanya pengembangan sumber-sumber energi lainnya
seperti batu bara, tenaga air, tenaga air, tenaga panas bumi, tenaga matahari,
tenaga nuklir, dan sebagainya.
Pencemaran lingkungan
sebagai akibat pengelolaan pertambangan umumnya disebabkan oleh faktor kimia,
faktor fisik, faktor biologis. Pencemaran lingkungan ini biasanya lebih
daripada di luar pertambangan. Keadaan tanah, air dan udara setempat di tambang
mempunyai pengaruh yang timbal balik dengan lingkungannya. Sebagai contoh
misalnya pencemaran lingkungan oleh CO sangat dipengaruhi oleh keanekaragaman
udara, pencemaran oleh tekanan panas tergantung keadaan suhu, kelembaban dan
aliran udara setempat.
Suatu pertambangan
yang lokasinya jauh dari masyarakat atau daerah industri bila dilihat dari
sudut pencemaran lingkungan lebih menguntungkan daripada bila berada dekat
dengan permukiman masyarakat umum atau daerah industri. Selain itu jenis suatu
tambang juga menentukan jenis dan bahaya yang bisa timbul pada lingkungan.
Akibat pencemaran pertambangan batu bara akan berbeda dengan pencemaran
pertambangan mangan atau pertambangan gas dan minyak bumi. Keracunan mangan
akibat menghirup debu mangan akan menimbulkan gejala sukar tidur, nyeri dan
kejang – kejang otot, ada gerakan tubuh di luar kesadaran, kadang-kadang ada
gangguan bicara dan impotensi.
Melihat ruang lingkup
pembangunan pertambangan yang sangat luas, yaitu mulai dari pemetaan,
eksplorasi, eksploitasi sumber energi dan mineral serta penelitian deposit
bahan galian, pengolahan hasil tambang dan mungkin sampai penggu uluan yang dilakukan
sebelum berbagai kajian kelayakan dilakukan
B. Cara Pengelolaan Pembangunan Pertambangan Energi
Eksplorasi
Kegiatan eksplorasi tidak termasuk kedalam kajian studi AMDAL karena
merupakan rangkaian kegiatan survey dan studi pendahuluan yang dilakukan
sebelum berbagai kajian kelayakan dilakukan. Yang termasuk sebagai
kegiatan ini adalah:
- pengamatan melalui udara
- survey geofisika
- studi sedimen di aliran sungai dan
- studi geokimia yang lain,
Diperkirakan lebih dari 2/3 kegiatan ekstaksi bahan mineral didunia
dilakukan dengan pertambangan terbuka. Teknik tambang terbuka biasanya
dilakukan dengan open-pit mining, strip mining, dan quarrying.
1. Metode strip mining (tambang bidang).
Dengan menggunakan alat pengeruk, penggalian dilakukan pada suatu
bidang galian yang sempit untuk mengambil mineral. Setelah mineral
diambil, dibuat bidang galian baru di dekat lokasi galian yang lama.
Batuan limbah yang dihasilkan digunakan untuk menutup lubang yang
dihasilkan oleh galian sebelumnya. Teknik tambang seperti ini biasanya
digunakan untuk menggali deposit batubara yang tipis dan datar yang
terletak didekat permukaan tanah.
Bertujuan untuk mengambil batuan ornamen, bahan bangunan seperti
pasir, kerikil, batu untuk urugan jalan, semen, beton dan batuan urugan
jalan makadam. Tambang bawah tanah digunakan jika zona mineralisasi terletak jauh di
dalam tanah sehingga jika digunakan teknik pertambangan terbuka jumlah
batuan penutup yang harus dipindahkan sangat besar. Produktifitas
tambang tertutup 5 sampai 50 kali lebih rendah dibanding tambang
terbuka, karena ukuran alat yang digunakan lebih kecil dan akses ke
dalam lubang tambang lebih terbatas.
Kegiatan ekstraksi meng-hasilkan limbah dan produk samping dalam
jumlah yang sangat banyak. Limbah utama yang dihasilkan adalah batuan
penutup dan limbah batuan. Batuan penutup (overburden) dan limbah batuan
adalah lapisan batuan yang tidak mengandung mineral, yang menutupi atau
berada diantara zona mineralisasi atau batuan yang mengandung mineral
dengan kadar rendah sehingga tidak ekonomis untuk diolah.
Batuan penutup umumnya terdiri dari tanah permukaan dan vegetasi
sedangkan batuan limbah meliputi batuan yang dipindahkan pada saat
pembuatan terowongan, pembukaan dan eksploitasi singkapan bijih serta
batuan yang berada bersamaan dengan singkapan bijih.
- Pengolahan Bijih dan Operasional Pabrik
Pengolahan bijih pada umumnya terdiri dari proses benefication –
dimana bijih yang ditambang diproses menjadi konsentrat bijih untuk
diolah lebih lanjut atau dijual langsung, Proses benefication terdiri
dari kegiatan persiapan, penghancuran dan atau penggilingan, peningkatan
konsentrasi dengan gravitasi atau pemisahan secara magnetis atau dengan
menggunakan metode flotasi (pengapungan), yang diikuti dengan
pengawaairan (dewatering) dan penyaringan.
- Pengolahan metalurgi
Bertujuan untuk mengisolasi logam dari konsentrat bijih dengan metode
pyrometallurgi, hidrometalurgi atau elektrometalurgi baik dilaku-kan
sebagai proses tunggal maupun kombinasi. Proses pyrometalurgi seperti
roasting (pembakaran) dan smelting menyebabkan terjadinya gas buang ke
atmosfir.
Metode hidrometalurgi pada umumnya menghasilkan bahan pencemar dalam
bentuk cair yang akan terbuang ke kolam penampung tailing jika tidak
digunakan kembali (recycle). Angin dapat menyebarkan tailing kering yang
menyebabkan terja-dinya pencemaran udara. Bahan-bahan kimia yang
digunakan di dalam proses pengolahan (seperti sianida, merkuri, dan asam
kuat) bersifat berbahaya.
- Proses pengolahan batu bara
Pada umumnya diawali oleh pemisahan limbah dan batuan secara mekanis
diikuti dengan pencucian batu bara untuk menghasilkan batubara
berkualitas lebih tinggi. Dampak potensial akibat proses ini adalah
pembuangan batuan limbah dan batubara tak terpakai, timbulnya debu dan
pembuangan air pencuci.
Isu-isu penting yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi alternatif pembuangan tailing meliputi :
- Karakteristik geokimia area yang akan digunakan sebagai tempat penimbunan tailing dan potensi migrasi lindian dari tailing.
- Daerah rawan gempa atau bencana alam lainnya yang mempengaruhi keamanan lokasi dan desain teknis .
- Konflik penggunaan lahan terhadap perlindungan ekologi peninggalan budaya, pertanian serta kepentingan lain seperti perlindungan terhadap ternak, binatang liar dan penduduk local.
- Karakteristik kimia pasir, lumpur, genangan air dan kebutuhan untuk pengolahannya.
- Decomisioning Dan Penutupan Tambang
Setelah ditambang selama masa tertentu cadangan bijih tambang akan
menurun dan tambang harus ditutup karena tidak ekonomis lagi. Karena
tidak mempertimbangkan aspek lingkungan, banyak lokasi tambang yang
ditelantarkan dan tidak ada usaha untuk rehabilitasi. Pada prinsipnya
kawasan atau sumberdaya alam yang dipengaruhi oleh kegiatan pertambangan
harus dikembalikan ke kondisi yang aman dan produktif melalui
rehabilitasi.
Tujuan jangka pendek rehabilitasi adalah membentuk bentang alam
(landscape) yang stabil terhadap erosi. Selain itu rehabilitasi juga
bertujuan untuk mengembalikan lokasi tambang ke kondisi yang
memungkinkan untuk digunakan sebagai lahan produktif.
- Metode Pengelolaaan Lingkungan
Mengingat besarnya dampak yang disebabkan oleh aktifitas tambang,
diperlukan upaya-upaya pengelolaan yang terencana dan terukur.
Pengelolaan lingkungan di sektor pertambangan biasanya menganut prinsip
Best Management Practice. US EPA (1995) merekomendasikan beberapa upaya
yang dapat digunakan sebagai upaya pengendalian dampak kegiatan tambang
terhadap sumberdaya air, vegetasi dan hewan liar. Beberapa upaya
pengendalian tersebut adalah :
- Menggunakan struktur penahan sedimen untuk meminimalkan jumlah sedimen yang keluar dari lokasi penambangan
- Mengembangkan rencana sistim pengedalian tumpahan untuk meminimalkan masuknya bahan B3 ke badan air
- Hindari kegiatan konstruksi selama dalam tahap kritis
- Mengurangi kemungkinan terjadinya keracunan akibat sianida terhadap burung dan hewan liar dengan menetralisasi sianida di kolam pengendapan tailing atau dengan memasang pagar dan jaring untuk
- Mencegah hewan liar masuk kedalam kolam pengendapan tailing
- Minimalisasi penggunaan pagar atau pembatas lainnya yang menghalangi jalur migrasi hewan liar. Jika penggunaan pagar tidak dapat dihindari gunakan terowongan, pintu-pintu, dan jembatan penyeberangan bagi hewan liar.
- Batasi dampak yang disebabkan oleh frakmentasi habitat minimalisasi jumlah jalan akses dan tutup serta rehabilitasi jalan-jalan yang tidak digunakan lagi.
- Larangan berburu hewan liar di kawasan tambang.
Usaha pertambangan adalah suatu usaha yang penuh dengan bahaya.
Kecelakaan-kecelakaan yang sering terjadi, terutama pada tambang-tambang
yang lokasinya jauh dari tanah. Kecelakaan baik itu jatuh, tertimpa
benda-benda, ledakan-ledakan maupun akibat pencemaran atau keracunan
oleh bahan tambang. Oleh karena itu tindakan – tindakan penyelamatan
sangatlah diperlukan, misalnya memakai pakaian pelindung saat bekerja
dalam pertambangan seperti topi pelindung, but, baju kerja, dan lain –
lain.
Contoh sederhana karena kecelakaan kerja adalah terjadinya lumpur lapindo yang terdapat di Porong, sidoarjo. Tragedi semburan lumpur lapindo yang terjadi beberapa tahun silam, setidaknya menjadi bukti adanya kelalaian pekerja tambang minyak yang lupa menutup bekas lubang untuk mengambil minyak bumi. Semburan di Porong, sidoarjo bukan fenomena baru di kawasan Jawa Timur. Fenomena yang sama terjadi di Mojokerto, Surabaya, Gunung Anyar, Rungkut, Purwodadi, jawa Tengah.
Bila melihat empat lokasi tersebut, Porong ternyata berada pada jalur gunung api purba. Gunung api ini mati jutaan tahun yang lalu dan tertimbun lapisan batuan dengan kedalaman beberapa kilometer dibawah permukaan tanah saat ini. Tinjauan aspek geologi dan penelitian sempel material lumpur di laboratorium yang dilakukan Tim Ahli Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) sejak juni hingga pertengahan juli menunjukkan, material yang dikeluarkan ke permukaan bumi memang berasal dari produk gunung berap purba.
Link Referensi:
- https://id.wikipedia.org/wiki/Pertambangan
- http://rizkafauzanul.blogspot.co.id/2016/01/masalah-lingkungan-dalam-pertambangan.html
- https://rikihamdanielektro.wordpress.com/2011/12/12/cara-pengelolaan-pembangunan-pertambangan-2/
- https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglyDlUu9t3WIFv0yh57c3y2z0tvMa0a3mUCfz0cGP7nbl8QYEOq-rDXP2IzPRW_6ZcJlJp6BavvZ92fpwW6mP4MhyD-GLjAjwaohk6u_pvdSmXRyWJ1Vllk5fsEgKSoHfi_ouJfNKyyeE/s1600/kec+tambang.jpg
- https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgejOKS8pUg7A4fdWw-lwgcIMHxQZRI2HBGzAaGM1UuO7DlaB6I3TyKIhS6LEa_5MxzbXS7FP78z5uDv-WowH53FZQfF8qYTV8DgODeyVZzfCYUNp6xmjCBhh_OF9-L4uhl5YeBJGayE1U/s1600/1pertambangan1.jpg


Tidak ada komentar:
Posting Komentar