Distributed Control System atau biasa disingkat dengan DCS
adalah sebuah control system yang biasa digunakan oleh sistem
manufaktur dimana DCS mampu menghimpun dan mengakuisisi data sehingga
dari data tersebut dapat dilakukan pengontrolan berdasarkan informasi
yang di terima, dimana kontroller disebar atau didistribusikan ke
masing-masing plant yang terhubung ke sistem DCS.
DCS secara umum terdiri dari digital controller terdistribusi yang mampu melakukan pengaturan 1-256 loop atau lebih dalam satu control box. Peralatan I/O dapat diletakan menyatu dengan kontroler atau dapat juga diletakkan secara terpisah kemudian dihubungkan dengan jaringan.
Sistem DCS dirancang dengan prosesor redundant untuk meningkatkan kehandalan sistem. Untuk mempermuudah dalam penggunaan, DCS sudah menyertakan tampilan atau grafis kepada user dan software untuk konfigurasi control. Hal ini akan memudahkan user dalam perancangan aplikasi. DCS dapat bekerja untuk satu atau lebih workstation dan dapat dikonfigurasi di workstation dan/atau PC secara offline. Komunikasi dapat dilakukan melewati jaringan melalui kabel atau fiber optic.
Fungsi DCS
DCS memiliki beberapa fungsi, diantaranya adalah:
- Sebagai alat untuk melakukan kontrol suatu loop sistem dimana satu loop dapat mengerjakan beberapa proses control.
- Sebagai pengganti alat control manual dan otomatis yang terpisah-pisah menjadi satu kesatuan sehingga lebih mudah untuk pemeliharaan dan penggunaannya.
- Sarana pengumpul dan pengolah data agar didapat output proses yang tepat.
Cara Kerja DCS
DCS digunakan sebagai alat kontrol suatu proses loop. Loop System terdiri dari:
- Alat pengukur (Sensor Equipment)
- Alat control untuk pengaturan proses (Controller)
- Alat untuk aktualisasi (Actuator)
Komponen Pada DCS
Secara garis besar, Distributed Control System memiliki tiga komponen utama, yaitu:- Operator Station yaitu tempat dimana operator dapat mengamati proses yang sedang terjadi dan mengolah data proses yang didapat. Berupa komputer biasa yang dapat mengambil data dari control station.
- Control Module yaitu bagian yang utama pada DCS. Control module berfungsi sebagai pusat kontrol dari seluruh pengendalian proses. Berbentuk blackbox yang terdapat pada lemari atau kabinet dan dapat ditemui di control room.
- I/O Module merupakan penghubung antara operator station dan control station, selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk interface-interface lain. Berfungsi menangani input dan output dari suatu nilai proses, mengubah sinyal dari digital ke analog dan sebaliknya.
DCS Pada Power Plant
Mengenali sistem distribusi control sistem pada power plant, misalnya
untuk PLTU. DCS (distributed control system) adalah sebuah sistem yang
terintegrasi menggunakan kontroler, protokol komunikasi, dan komputer
yang dapat memudahkan user untuk mengontrol peralatan-peralatan yang
menggunakan sinyal analog maupun digital dari control room.
jadi, ketika ingin mengontrol sebuah valve, tidak hanya kontrol on-off,
tetapi juga berapa besar bukaannya semisal dari 0 – 100 persen bisa
dilakukan dengan mudah. DCS system, pada power plant, hanya dibagi tiga bagian yaitu bagian boiler, turbin, dan auxiliary sistem (fuel and water).
Programmable Logic Controller (PLC) dan kontroler lainnya
terletak di bawah DCS. Adapun panel-panel kontrol yang biasa disebut FCS
(Field control station), dan Posisi MCC adalah pada kontrol panel. Jadi
MCC sebagai panel kontrol untuk motor, ketika ingin mengontrolnya dari
ruang pengontrol, maka memerlukan DCS untuk mengirim sinyal ke MCC.
Adapun proses digunakan PLTU sebagai berikut:
Adapun proses digunakan PLTU sebagai berikut:
Raw Material Transportation and Processing, pada proses ini disiapkan bahan bakar dan air untuk bahan produksi steam, biasanya disebut auxiliary system. Mulai dari pengaturan rail pengangkut kereta, belt scale conveyor, coal drying, hingga siap masuk ke feeder.
Boiler Combustion (Pulverization of Coal / CFB), di Boiler terjadi pebakaran yang merupakan proses utama pada Thermal Powerplant. Karena proses pembakaran akan mempengaruhi efisiensi pembangkitan, jumlah bahan bakar yang digunakan, jumlah udara pembakaran yang sesuai untuk menghasilkan pembakaran yang cukup. Apabila kekurangan udara pembakaran dapat menyebabkan ledakan karena timbunan fuel, dan kelebihan udara pembakaran juga dapat menyebabkan pembakaran tidak efisien. Hal tersebut akan diatur seberapa besar pembakaran yang diperlukan menurut beban operasionalnya.
Turbine (Steam Turbine and Heat Recovery) Monitoring and Control, turbin juga mempunyai peranan penting. Sebuah sistem Digital Electro Hydraulic (DEH) digunakan sebagai sistem untuk keselamatan turbine ketika terjadi fault condition. Pada kondisi tertentu, kontrol turbin juga digunakan untuk mengatur frekuensi tegangan agar mengikuti tegangan jaringan.
Generator and Plant Electrical System Monitoring and Control, pada proses ini juga harus mengontrol Eksitasi Generator, serta pengamanan elektrikal. Waste and Exhaust Treatment, dilakukan treatment pada hasil pembakaran seperti gas desulphurization dan slag transmission. Hal ini berguna untuk pengurangan emisi nitrogen, yang baik untuk keberlangsungan alam yang sehat.
Referensi:

